Jejak Petualanganku di KKL 1

Kuawali dengan membaca bismillahirrahmanirahim. Dengan sangat bahagia, aku mencoba menuliskan cerita yang kali ini kusebut sebagai jejak petualanganku. Ah, maklum saja, judul ini kubuat karena kebetulan kelasku mendapat tema kepenulisan yang berbau jejak petualang. Pantas tidaknya ini menjadi cerita sebagaimana jejak petualang yang tayang di Trans 7, silakan nilai saja sendiri. Aku harap, cerita ini bisa menjadi kenangan dan terus melatih kemampuanku dalam dunia kepenulisan yang bisa dikatakan saat ini aktif ku jajaki. Aku tidak mau hanya sekedar mampu menulis artikel, cerita fiksi, puisi, opini, dan essay saja. Aku juga harus bisa berbagi pengalamanku. Memang ku akui bahwa selama ini, saat aktif menjadi penulis, aku sering menuliskan pengalaman orang lain yang arahnya adalah kisah inspiratif. Aku suka tipe-tipe seperti itu.

Kau tau harapanku? ya, harapanku tidak lain adalah menjadikan jejak petualanganku di KKL 1 ini menginspirasi lebih banyak orang untuk mencintai alam dan melihat betapa indahnya kekuasaan Tuhan.

Tepatnya pada tanggal 25 April 2018. Kau tau? Hari itu adalah hari Rabu. Kuingin cerita sedikit tentang rasa bahagia dari teman-teman sekelasku karena KKL 1 diadakan berketepatan dengan hari itu. Ah, kurasa kau juga pasti tau, yang namanya mahasiswa dibawah naungan KKNI yang di press dengan tugas. Tepatlah hari itu, banyak tugas yang harus dikumpul. Tiada kata lain yang bisa kudengar selain lontaran kalimat syukur dari mulut-mulut mereka. Ah, aku tertawa mengingatnya. Upss…Cuma dalam hati.

Kami berangkat dengan menggunakan moda transportasi kebanggaan kami, bak kata salah satu dosen kami. Moda transportasi itu tidak lain adalah Sutera. Bisa ku baca dibagian belakangnya bertuliskan “Sumatera Transport”. Titik kumpulnya dibelakang jurusan, dan dijadwalkan pada pukul 05.30 pagi. Dan kau tau dugaanku kali itu benar. Banyak mahasiswa yang punya jam karet. Harus kuakui bahwa aku juga punya jam karet itu bersama geng satu gang ku yang kami sebut “the Kartawi’squad”. Ah, tapi jangan salah, saat kami datang, masih banyak mahasiswa yang lebih ngaret daripada kami.

Pagi itupun menjadi saksi gagahnya 6 buah Sutera yang akan membawa kami pergi menuju kabupaten Karo. Sibuknya para panitia dalam mengurus persiapan bisa terlihat pagi itu. Mulai dari menyiapkan peralatan yang akan kami gunakan disana, membawa alat dan bahan yang akan mendukung proses belajar kami disana, serta pembagian jatah makanan untuk sarapan dan makan siang kami pada hari itu. Aku kasi jempol buat para panitia yang mendedikasikan dirinya kala itu. Sebelum berangkat, dan sudah lumrahnya dilakukan pembukaan secara resmi oleh dekan Fakultas Ilmu Sosial  dan ketua jurusan pendidikan geografi. Dosen-dosen pun sudah bersiap untuk menjadi pembimbing kami di KKL 1 ini. Sebelumnya diprediksikan akan ada 12 orang dosen yang akan menjadi pembimbing kami, namun apalah daya, yang berhasil ikut hanyalah 8 orang dosen. Namun tetap kami ucap alhamdulillah karena setidaknya hanya 4 orang dosen yang meleset dari prediksi yang sebelumnya.

Setelah acara pelepasan selesai, kami pun mulai bergegas masuk ke dalam bus masing-masing. Kau tau? saat itu, aku sangat menimati suasana yang terasa akrab itu. Perbicangan bernada lucu pun tersaji. Saat itu, bus keluar dari gerbang 4 dan kebetulan di depan masjid UNIMED ada segerombolan mahasiswa yang memberikan lambaian tangannya kepada bus kami. Saat itu, senangnya hati kami dan kawan-kawan kami perlihatkan dengan membalas lambaian itu.

Perjalanan kembali berlanjut, seperti biasanya, diawal-awal memang tersaji gelak tawa, canda ria. Namun 1 jam setelah perjalanan dimulai, semua mulai memejamkan mata dan bersender pada kawan masing-masing yang ada disebelahnya. Namun apalah dayaku yang memang terbilang susah untuk tidur di dalam bus. Akhirnya, kau tau apa yang aku lakukan? Ya, aku rekam momen itu. Aku memang berniat merekam setiap momen-momen di KKL 1 ini, hingga nanti bisa dijadikan satu buah video yang menarik. Itu harapanku.

Beberapa waktu kemudian, kami pun semakin jauh meninggalkan Medan dan akhirnya memasuki wilayah kabupaten Karo. Aku sempat membaca tulisan di gapura itu “Selamat Datang di Kabupaten Karo”. Ah, ku pikir lokasinya sudah tidak jauh, oh ternyata aku salah. Lokasi yang kami tuju masih jauh dari perkiraanku. Saat memasuki kabupaten itu, aku memang masih berjaga-jaga jika sewaktu-waktu busnya sampai, aku bisa membangunkan teman-temanku yang sedang tidur.  Dan saat itu, disepanjang perjalanan, aku mulai bisa melihat sebuah gunung yang sebagian besar permukaannya telah gundul dan terlihat beberapa bagian yang menghitam. Oh ternyata itulah gunung Sinabung yang belum lama ini meletus dan menyebabkan banyak warga harus mengungsi. Apalagi saat itu aku melihat pemberitaan bahwa letusannya menyebabkan kondisi di sekitarnya seperti malam karena awan panasnya menutupi sinar matahari. Lain lagi debu vulkanik yang dikeluarkan. Hm, itu mungkin sedikit review karena aku teringat kejadian yang menimpa wilayah itu.

Sinabung

Saat itu, setelah menemukan titik yang pas untuk melihat gunung Sinabung, kami pun mulai mengawali kuliah kerja lapangan kami dengan melakukan pengamatan terhadap gunung Sinabung. Adapun radius pengamatan kami saat itu ±7 km. Namun kau tau, aku melihatnya sangat dekat dan terpikir bahwa itu hanya beberapa ratus meter saja. Saat itu, beberapa dosen memberikan pengarahan dan penjelasan terhadap kenampakan gunung tersebut. Ya, tentu ini sangat bermanfaat bagi kami mengingat selama ini kami hanya mempelajarinya di dalam kelas dan belum melihat langsung kenampakan fisik gunungapi itu seperti apa. Ya, kalau bisa dibilang “alam adalah laboratoriumnya anak geografi”, cielah…. benar kok. Saat itu, tidak ketinggalan bagi kami untuk mengukur titik koordinat, suhu, dan kecepatan angin yang ada di lokasi pengamatan. Setelah penjelasan dan materi singkat yang diberikan selesai, kami pun diberikan kesempatan untuk melakukan foto-foto di lokasi tersebut.

Seperti biasa, banyak sekali mahasiswa yang mengabadikan momen saat itu. Ada yang berfoto selfie, ada yang berfoto bersama geng dan sub gengs nya 😀 dan ada juga yang berfoto dengan satu kelasnya. Ah, bebas milih lah pokoknya. Tapi yang terbatas adalah waktu. Bisa kukatakan bahwa saat itu aku melakukan ketiga jenis foto, baik itu selfie, bersama geng dan sub gengs dan juga foto satu kelas. Tidak lupa aku juga membuat video pendek. Aku bisa katakan bahwa pemandangan disekitar gunung sangatlah indah dan menarik untuk dijadikan spot foto dan belajar. Pencahayaan yang bagus serta nuansa hijau dari tanaman yang ada disekitar dan plus dengan bunga-bunga tanaman penduduk sekitar akan turut menjadikan lokasi itu sangat menarik.

Secara fisik, bisa kuceritakan bahwa kegundulan permukaan gunung yang terlihat gosong dan menghitam telah menjadi saksi kedahsyatan letusan dan aliran lava panas dari dalam gunung. Saat itu, aku juga masih bisa melihat ada asap yang keluar dari celah-celah yang lokasinya dekat dengan puncak gunung. Tidak ketinggalan saat itu, ada asap berwarna kuning yang juga turut keluar dari celah-celah yang ada di gunung itu. Sudah pasti, itu kuyakini adalah belerang. Kalau rumus kimianya “S”. Hm, maklum teringat pas SMA, soalnya anak IPA yang masuk geo, haha.

Tak berapa lama kemudian, kami pun diberi tahu bahwa waktu untuk berfoto-foto ria sudah habis dan saatnya untuk melanjutkan perjalanan kembali. Seperti biasanya, masih ada yang tetap kekeh berfoto dan menyempatkan untuk mengambil jepretan yang lebih banyak. Hingga akhirnya semua sudah ada di bus kami pun melanjutkan perjalanan.

Goes to Kuta Buluh

Perjalanan kami pun berlanjut ke kecamatan Kuta Buluh desa Lau Buluh. Ya, sebagaimana yang sudah terjadwal, disana kami akan melakukan pengamatan dari aspek sosial budaya dan juga kami akan menuju gua Liang Dahar sebagai salah satu aspek geomorfologi yang akan kami pelajari. Sesampainya disana, jujur aku memang kurang suka dengan suasananya. Apalagi banyak hewan peliharaan anjing. Ya, maklum lah aku sedkit takut dengan anjing-anjing itu. Namun, sebagai sosok yang berusaha mencari ilmu, semua itu harus kusingkirkan dari pikiranku. Sebelum melakukan pengamatan aspek sosial budaya masyarakat sekitar, kami pun makan siang bersama terlebih dahulu, barulah setelah itu kami melakukan wawancara terhadap warga sekitar.

Tidak butuh waktu lama, kami pun langsung bergerak menuju rumah-rumah warga untuk menemukan responden. Kebetulan saat itu kami melihat ada beberapa orang ibu-ibu yang sedang duduk-duduk disebuah warung. Benar saja, kami langsung menanyakan kesediaan mereka untuk diwawancarai. Alhamdulillah mereka mau.

Saat itu aku mewawancarai seorang ibu-ibu yang berusia 68 tahun, namanya Sri . Dari namanya saja aku sudah tau bahwa dia suku Jawa. Wah, ditengah mayoritas suku Batak di tanah Karo, aku bisa menemukan seseorang yang bersuku Jawa. Ia mengatakan bahwa ia hanya tinggal berdua bersama suaminya yang sedang sakit. Usia suaminya 90 tahun dan sudah tidak bisa lagi berdiri. Dia pun menceritakan bahwa tidak ada penghasilan lain selain gaji veteran yang berkisar dua juta rupiah perbulannya yang ia terima. Saya juga menanyakan apakah ada bantuan dari anak-anaknya, namun ia tertunduk dan mengatakan tidak ada. Aku pun kembali menanyakan apakah gaji tersebut dirasa cukup oleh ibu?, ibu itu pun menjelaskan bahwa tidak cukup apalagi kebutuhan sang suami yang sedang sakit tentu lebih banyak bila dibandingkan dalam kondisi sehat. Ibu itu juga mengatakan bahwa ia selalu berusaha memberikan asupan lebih kepada sang suami agar kondisi bisa membaik. Dari cerita ibu itu, aku pun mendapat banyak hal berharga. Aku berharap suatu saat aku bisa memberikan hal lebih kepada kedua orang tua, membantu kedua orang tua dan lebih berbakti lagi kepada kedua orang tua. Selain itu, kesabaran si ibu itu dalam mengurus suaminya telah mencerminkan bahwa cinta itu bukan hanya ada disaat senang dan dalam kondisi yang masih cantik atau ganteng saja melainkan juga hingga tua renta dan sabar dalam keadaan apapun.

Saat itu pembicaraan pun aku tutup dengan mengucapkan terima kasih banyak atas waktu dan kesempatan untuk bisa mendengar ceritanya yang berharga….

Setelah semua mahasiswa melakukan wawancara, kami pun mendapat arahan agar segera berkumpul dan diinstruksikan untuk melanjutkan perjalanan ke gua Liang Dahar.

Menuju Gua Liang Dahar

Setelah semua personil mahasiswa di masing-masing kelas lengkap, kami pun diinstruksikan untuk melanjutkan perjalanan menuju gua. Masih dengan kondisi semangat, sembari berjalan, aku tidak lupa untuk mengabadikan momen saat itu. Apalagi kondisi jalan yang kami lalui itu berbukit bukit. Otomatis kami harus punya tenaga ekstra untuk itu. Disamping kiri kanan, hamparan bukit nan asri serta hijau turut memanjakan mata kami. Tiada hal yang pantas ku ucap selain fabiayyialairobbikumatukazziban. Seperti yang kami ketahui bersama diawal bahwa perjalanan akan menyita waktu ±1 jam. Hal itu pun benar adanya. Disamping kiri kami saat itu juga terlihat lembah-lembah yang bisa dikatakan jurang. Kami pun turut berhati-hati saat itu.

Semakin mendekat dengan lokasi gua, ternyata medan yang kami lewati juga semakin sulit. Kami harus memakai bantuan tali sebagai keamanan dan berjaga-jaga supaya tidak tergelincir saat turun menuju gua. Namun karena kondisi yang memang cukup licin dan terjal, beberapa orang mahasiswa yang saat itu bersamaku terpeleset dan terhempas. Meski diriku tidak terjatuh atau terpeleset, namun kata “hampir” juga menimpaku. Saat itu ingin rasanya aku mengabadikan momen-momen saat itu, tapi karena kondisi yang kurang memungkinkan untuk memegang kamera ponsel, aku pun menunda niat itu. Namun, saat hampir dekat dengan gua, aku bisa mengabadikan momen walaupun tidak begitu sesuai dengan ekpektasiku:D.

Saat itu, kondisi disekitar gua seperti senja, maklum saja, saat itu hari memang sudah beranjak sore. Sinar matahari pun sudah tidak sampai lagi ke mulut gua. Rasa lelah dan perjuangan untuk menuruni guai ppun turut terbayarkan saat bisa merasakan kegelapan dan gema suara yang ada di dalam gua. Lagi-lagi, aku pun tidak ketinggalan untuk mengabadikan momen saat berada didalam gua. Bisa kukatakan saat itu kami seperti berfoto dalam keadaan mati lampu.

Saat dosen-dosen kami sudah sampai di gua, penjelasan bentuk lahan pun mulai diberikan kepada kami. Ya, saat itu kami bisa langsung melihat bagian-bagian gua dan proses apa yang terjadi padanya. Saat itu tentu kami melihat bahwa disana banyak terjadi proses pelarutan. Kami juga tidak lupa untuk mengambil sampel tanah gua dan batu yang ada didalam gua. Kami coba teliti apakah kadar kapur dalam batuan gua itu tinggi. Saat itu, ada beberapa teman kami yang mencobanya langsung di dalam gua dan mengatakan bahwa kadar kapurnya tinggi karena setelah ditetesi dengan HCL terlihat gelembung (buih).

Saat itu, karena waktu yang kurang memungkinkan, kami pun harus segera bergegas pulang. Melanjutkan perjalanan menuju Tongging untuk menginap dan beristirahat.

Lanjut Ke Tongging……

Perjalanan pun terus berlanjut ke Tongging. Rasa lelah pada tubuh pun mulai tidak bisa dihindarkan. Aku pun mulai merebahkan badan ke arah samping dan mencoba untuk memejamkan mata. Hal itu tampaknya tidak hanya terjadi pada diriku, melainkan juga pada teman-temanku. Kulihat juga mereka muai merebahkan badan seraya memejamkan matanya. Saat itu, kami telah terjebak malam diperjalanan dan sampai ke penginapan juga sudah malam. Adapun nama penginapan yang kami tempati adalah “Sitopsi”. Aku dan beberapa temanku mendapat no kamar 5. Ukurannya memang tidak luas. Disana kami harus berbagi tempat dengan 9 orang. Meski demikian, ada kamar mandi di dalamnya, sehingga kami bisa bergantian mandi disana. Karena merasa sumpek karena seharian tidak mandi, kami pun antri mandi dan membersihkan diri pada malam itu. Medan yang notabenenya wilayah dataran rendah tentu punya suhu udara yang berbeda dengan Tongging kala itu yang berada di dataran tinggi. Otomatis, suhu air yang kami jadikan air mandi pada malam itu teramat dingin. Kalau aku bisa bilang, itu seperti air es. OMG aku sampai gemetaran saat mandi.

Meski sudah lelah seharian dan baru sampai ke penginapan saat hari sudah malam, tidak menyurutkan semangat kami untuk berkumpul bersama menikmati momen-momen indah di KKL 1 ini. Kami pun diajak ke pondok yang menjadi tempat mahasiswa laki-laki tidur malam itu. Lokasi pondok itu dibangun langsung diatas air danau toba. Sudah terbayang kan dinginnya. Meski tidak semua bisa kumpul pada malam itu, paling tidak sebagian besar sudah hadir untuk menikmati kebersamaan yang tersaji. Kau tau apa yang kami jadikan game pada malam itu? ya, tentu tidak asyik jika tanpa game. Kami memainkan permainan yang dinamakan “true order”. Disini menuntut kami untuk berkata jujur saat diberikan pertanyaan. Adapun pemilihan orang yang akan menjawab ditentukan dengan sebuah botoh minuman yang diputar, lantas kearah siapa botol minuman itu menunjuk, maka dialah yang harus menjawab pertanyaan yang ada. Ah…tidak usah terlalu mendetail tentang malam itu, yang penting seruuuuuu….

Karena waktu sudah mulai larut dan kami tau bahwa besok pagi kami harus kembali melanjutkan perjalanan menuju sipiso-piso, kami pun memutuskan untuk tidur dan mengakhiri keseruan malam itu.

Hingga….pagi pun tiba. Kami masih harus melanjutkan penelitian kami disekitar Tongging. Kami dianjurkan agar gerak cepat karena para warga disekitar sana cepat pergi ke ladang. Ya, aku melihat banyak dari mahasiswa yang mulai melakukan aksinya berupa wawancara dengan warga sekitar. Aspek yang kami amati juga masih sama yaitu “sosial budaya”. Aku melihat banyak artivitas yang tersaji pagi itu, salah satunya ada seorang warga yang sedang menaiki perahu di pinggir danau toba. Ia terlihat sedang memeriksa “bubu” yang dijadikan penangkap ikan. Setelah menyelesaikan pengamatan aspek sosial budaya, kami pun sarapan bersama di pinggiran Danau Toba. Kau tau? momennya itu sangat luar biasa.

Selesai sarapan, kami pun diberikan kesempatan untuk mengabadikan foto disana. Tentu kami tidak lupa untuk foto bersama satu kelas, bersama dosen, beda kelas, satu geng, selfie dan juga foto-foto lucu turut tersaji disana. Tidak berlama-lama untuk foto, kami pun diistruksikan naik ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke Sipiso-Piso.

Spot Terakhir Sipiso-Piso

Kondisi pagi itu memang terlihat mendung. Benar saja, saat sampai ke Sipiso-Piso, kami terjebak hujan yang memang tidak terlalu lebat namun jika ditempuh tanpa pelindung bisa membuat basah. Akhirnya sebagian besar dari kami ada yang menggunakan mantel hujan, jaket dan juga sweater. Tujuannya sudah pasti untuk melindungi badan dari air hujan yang turun. Meski kondisinya hujan, tidak menyurutkan semangat kami untuk belajar pada hari itu.

Ada 3 aspek yang kami pelajari pada hari itu. pertama, ekologi. Disana kami melihat sejauh mana konservasi yang dilakukan oleh masyarakat sekitar dan bagaimana jenis lahan pertanian yang dibuat oleh mereka, serta suksesi yang telah terjadi pada daerah yang sudah dilakukan pengamatan. Upss, tidak lupa juga mengamati jenis-jenis tumbuhan yang ada disana. Kedua, tanah. Disana kami diajak melihat horizon tanah pada tebing. Kami bisa melihat batasan antar horizon, sifat fisik tanah yang meliputi warna, terkstur, struktur, konsistensi dan lain sebagainya, sifat biologi yang mana kami diajak melihat organisme apa yang membantu pelunakna tanah, serta sifat kimia yang kami uji dengan beberapa larutan. Ketiga, air. Kami diajak menuju sungai pada saat itu. kebetulan pada saat itu, aku dan kawan-kawan merupakan tim terakhir yang melakukan pengamatan terhadap sungai. Sesampainya di sungai, bisa kulihat bahwa tampilan fisik sungainya lumayan kecil dan banyak bebatuan yang menghalangi sehingga alirannya menjadi deras. Beberapa teman-temanku yang laki-laki terjun langsung untuk melakukan pengukuran panjang, lebar, dan kedalaman sungai.

Kau tau? ada kejadian lucu yang membuat kami semua tertawa saat itu. Ya kejadian itu tidak lain adalah penemuan benda berwarna merah oleh salah satu temanku yang saat itu sedang ingin mengambil tali sebagai alat ukur lebar sungai. Kebetulan tali itu diikatkan pada sebatang kayu kecil yang posisinya masih berada di pinggir sungai. Otomatis temanku yang laki-laki ini berusaha mengambilnya. Ternyata oh ternyata, ada sesosok benda yang menempel pada tali itu. benda itu tidak lain adalah salah satu bagian dari pakaian dalam wanita. OMG, dan yang membuat lucunya, teman kami ini tidak tau benda apa  yang baru didapatnya itu karena masih kurang jelas melihatnya. Kami yang bisa melihat saat itu otomatis tertawa terbahak-bahak dan tidak terkecuali untuk dosen yang membimbing kami untuk melakukan pengukuran pada saat itu. Sungguh, itu cukup seru menurutku. Tertawa itu bisa melepas lelah yang sudah kami alami.

Setelah menyelesaikan pengukuran sungai, kami pun beranjak naik dan diberikan makan siang pada saat itu, kebetulan saat itu sudah masuk waktu zhuhur, maka kami yang muslim memutuskan untuk shalat terlebih dahulu. Saat itu, aku berjanji kepada beberapa orang temanku bahwa selesai shalat kami akan mandi di air terjun Sipiso-Piso dan itu artinya kami harus turun kebawah.  Memang jujur, aku penasaran ingin melihat langsung air terjun itu dari jarak dekat. Sebelumnya aku juga belum pernah turun kebawah untuk menikmatinya.

Selesai shalat, kami pun memutuskan untuk turun kebawah. Pada saat itu, kami juga diberi kesempatan dan waktu oleh panitia. Kau tau apa yang kurasakan? lama sekali sampai di air terjunnya. Entah karena aku baru pertama kali? entahlah. pada saat itu kondisinya masih menuruni tangga yang medannya bisa kukatakan tak mudah. Ada beberapa anak tangga yang posisinya sangat terjal dan hampir tegak lurus alias membentuk sudut 900. Lain lagi beberapa anak tangga yang kondisinya sudah tidak bagus lagi. Namun berkat perjuangan yang tidak mengenal lelah, akhirnya aku dan kawan-kawan pun sampai ke air terjun. OMG disitu, suara gemuruh air terjun telah mampu menepis rasa lelah saat menuruni anak tangga. Hm, benarkah? hihi lumayan benar.

Suhu disekitar air terjun memang teramat sejuk. Niat yang mulanya ingin mandi akhirnya pupus. Apalagi mengingat aliran air yang terlalu deras dan bisa membahayakan. Cukuplah saat itu kami menikmati tempias air terjun yang telah membasahi kami semua. Tidak lupa juga kami mengabadikan momen-momen disana. Baik itu foto maupun video pendek.

Waktu terus beralalu. Tidak terasa kami sudah mendengat bunyi suara TOA dari atas yang menandakan kami harus menyudahi kegiatan di air terjun. Siapa sangka, perjuangan naik itu lebih ekstra daripada turun. Dengan sekuat tenaga dan beberapa kali beristirahat akhirnya, kami dan rombongan sampai keatas. Kami langsung diarahkan ke sebuah warung untuk menikmati minum teh dan juga gorenga. Kondisi bajuku dan teman-teman yang saat itu masih basah memaksa kami harus sedikit turun untuk menemuka toilet. Saat kami naik kembali, terdengar suara yang menginstruksikan agar kami naik ke bus dan segera berangkat ke Medan.

Back to Medan……

Setelah semua naik, maka saatnya lah kami memulai perjalanan pulang ke Medan. Selamat tinggal Sipiso-Piso. Tidak lupa kami berdoa menurut agama dan kepercayaan kami masing-masing agar perjalanan pulang kami bisa lancar dan selamat sampai ke tujuan. Sebelum sampai ke Medan, kami sempat berhenti di kawasan Berastagi untuk mengambil makan malam yang diantar dari Kabanjahe. Setelah mendapatkan makan malam, kami pun langsung melanjutkan perjalannan menuju Medan. Akhirnya kami sampai di Medan sekitar pukul 10 malam. Alhamdulillah selamat sampai tujuan tanpa kurang satu apapun.

Itulah jejak petualanganku di KKL1 kali ini. Bahagia rasanya bisa menuliskan ini. Semoga di KKL 2 masih ada kesempatan yang sama untuk bisa menuliskannya dalam sebuah buku sehingga bisa menjadi kenang-kenangan terindah yang bisa terus diingat dalam rangkaian kata-kata. Amiiin.

Tentang Penulis

Budi Rahmah Panjaitan lahir di Sei Kepayang Tengah, 06 Oktober 1998. Sejak duduk dibangku SMP, ia sudah suka dengan dunia jurnalistik. Saat disekolah ia jua sering dijuluki wartawan dan juga Feny Rose KW. Saat ini ia aktif dalam dunia kepenulisan, baik itu puisi, cerpen, kisah inspiratif, essay, artikel, opini dan lain sebagainya. Ia juga telah menjadi penulis tetap di salah satu platform Indonesia yaitu Baca Berita atau yang biasa disingkat dengan BaBe. Selain itu, ia juga aktif menulis sebagai seowriter yang melatihnya dalam menulis artikel soft selling dan edukasi. Beberapa buku kumpulan antologi puisi dari lomba-lomba yang pernah ia ikuti juga telah terbit. Beberapa kali ia sering terpilih sebagai penulis puisi terpilih dari berbagai event yang diadakan. Saat ini ia berharap terus bisa terus mengasah kemampuan menulisnya dan menginspirasi lebih banyak orang untuk menulis. Ia juga berharap kelak bisa menerbitkan buku tulisannya secara pribadi. Adapun kalimat yang selalu dipegangnya adalah “setidaknya abadi dalam tulisan”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s